TUGAS PERTEMUAN PERTAMA
1. Mitos dan Asal Usulnya
Asal Usul Masyarakat Nias
2. Perjalanan
ke Luar Angkasa
Voyager 1
Asal Usul Masyarakat Nias
![]() |
| Gambar 1 : masyarakat Nias |
Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di Pulau
Nias. Dalam bahasa aslinya, masyarakat Nias menamakan diri mereka ‘Ono Niha’ (Ono berarti keturunan; Niha
berarti manusia) dan pulau Nias sebagai ‘Tanö
Niha’ (Tanö berarti tanah). Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam
lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum
disebut Fondrakö, yang mengatur
segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian.
Menurut
masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul Suku Nias adalah pohon kehidupan
yang disebut ‘Sigaru Tora`a’ yang terletak di sebuah tempat yang bernama ‘Tetehöli
Ana'a’. Menurut mitos tersebut, kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias
dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki sembilan orang putra yang diperintahkan
untuk meninggalkan Tetehöli Ana'a untuk membuktikan siapa yang pantas menjadi
pengganti raja. Kesembilan Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang
pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.
Dikatakan
pula bahwa asal usul masyarakat Nias adalah
diturunkan dari langit (Ni Dada Moroi Ba
Langi). Hal ini dilatarbelangi oleh keterbatasan pemahaman mereka mengenai
ilmu pengetahuan, sehingga beranggapan bahwa didunia ini hanya ada satu daratan
yaitu hanya daratan Pulau Nias atau Tanö
Niha. Yang menjadi sebab panggilan terhadap diri mereka sendiri sebagai Ono Niha.
Kedelapan putra Rasa Sirao yang diturunkan
ke bumi gagal untuk menjadi pengganti sang ayah. Hanya anak terakhir Raja Sirao
yang masih tinggal di atas langit, menjadi penguasa matahari dan bulan. Kegagalan
kedelapan kakak-kakaknya bukan tanpa arti, tiap-tiap mereka membawa pesan moral
yang hingga kini terus diyakini oleh masyarakat Nias.
Seperti kakak pertama yang gagal kemudian
diturunkan di tengah pusaran bumi menjadi penopang bumi. Maka bagi mereka yang
mengucapkan sumpah palsu atas namanya (Tuan Bawuadaỡ), akan mendapatkan hukuman
berupa kematian. Membuat masyarakat Nias mengutamakan kejujuran dalam berbuat
maupun berkata, agar terhindar dari murka Bawuadaỡ.
Putra kedua yang juga gagal, ketika
diturunkan jatuh di tengah-tengah air. Sehingga masyarakat Nias memercayai bagi
mereka yang membuang kotoran di sungai, hasil pancingan mereka, keselamatan
mereka ketika menyebrangi sungai, akan berakhir buruk yang secara tidak
langsung mengajarkan masyarakat Nias untuk senantiasa menjaga kebersihan.
Begitu juga dengan putra ketiga yang jatuh
di atas pohon besar yang membuatnya menjadi penguasa pohon di dataran bumi. Bagi mereka yang merusak hutan dan lingkungannya, putra
ketiga akan murka dan mendatangkan badai besar beserta penyakit. Sementara putra
keempat ketika diturunkan ke bumi jatuh pada permukaan sebuah batu yang besar,
yang mengajarkan masyarakat Nias untuk dapat membedakan mana baik dan buruk,
agar tidak terkena hukuman berupa cita-cita yang takkan pernah tercapai.
Berkenaan
dengan putra kelima, ia jatuh diatas puncak gunung tertinggi daerah Nias, yaitu
Gunung Gui-gui. Ia menjadi pendahulu para dukun dan ahli ramal di Nias, yang
mengajarkan pelajaran tentang obat-obatan tradisional dan membaca atau meramal
kejadian yang akan datang di masa depan. Namun hal tersebut harus digunakan
untuk kebaikan, apabila dilanggar, putra kelima akan murka.
Putra
keenam yang juga gagal jatuh di daerah bernama Gomo, menjadikan daerah selatan
Nias menjadi miring datarannya. Putra ketujuh yang gagal jatuh di daerah utara,
menyebabkan bumi Nias melengkung.
Putra
Sirao yang kedelapan pun akhirnya menyusul kakak-kakaknya, ia dibekali
seperangkat perhiasan emas dan perak, peralatan tombak pedang, serta berbagai
jenis alat timbangan. Dengan jatuhnya ia di tanah Nias, keadaan yang sebelumnya
melengkung berubah menjadi lurus kembali, beserta dengan berbagai peralatan
yang dibawanya menjadi bekal bagi dirinya untuk hidup di bumi Nias. Dapat disimpulkan bahwa mitos ini termasuk ke dalam mitos
anthropogonik, kisah yang menceritakan asal-usul masyarakat Nias berada pertama
kali.
Di
samping kisah asal usul masyarakat Nias, telah dilakukan penelitian oleh para
arkeologi di Pulau Nias sejak tahun 1999. Penelitian ini menemukan bahwa sudah
ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan
Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun
lampau, kata Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional
dan LIPI Jakarta. Pada masa itu, hanya budaya Hoabinh (Vietnam) yang sama
dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga asal usul Suku Nias
berasal dari daratan Asia sana.
Penelitian
genetika terbaru menemukan bahwa masyarakat Nias (Sumatera Utara) berasal dari
rumpun bangsa Austronesia. Nenek moyang orang Nias diperkirakan berimigrasi
dari Taiwan melalui jalur Filipina 4.000-5.000 tahun lalu. Mannis van Oven,
mahasiswa doktoral Department of Forensic Molecular Biology, Erasmus
MC-University Medical Center Rotterdam, memaparkan hasil temuannya di Lembaga
Biologi Molekuler Eijkman, Jakarta, Senin (15/4/2013). Dalam penelitian yang
telah berlangsung sekitar 10 tahun ini. Oven dan anggota timnya meneliti 440
contoh darah warga di 11 desa di Pulau Nias. ”Dari semua populasi yang kami
teliti, kromosom-Y dan mitokondria-DNA masyarakat Nias sangat mirip dengan
masyarakat Taiwan dan Filipina,” Ujarnya, mengungkapkan kemungkinan asal
masyarakat Nias yang sebenarnya.
Voyager 1
![]() |
| Gambar 2 : Voyager 1 |
Voyager 1 adalah salah
satu probe luar angkasa (sebutan robot
pesawat ruang angkasa yang tidak bertugas mengorbit di bumi, namun
mengeksplorasi lebih lanjut ke luar angkasa. Seperti mendekati bulan;
perjalanan ruang antar planet; flyby,
orbit, atau mendarat di badan-badan planet lainnya; atau memasuki daerah
interstellar) Diluncurkan oleh NASA pada tanggal 5 September 1977. Salah
satu misi Voyager adalah untuk memelajari bagian luar dari tata surya tempat
manusia tinggal. Voyager 1 diluncurkan tepat 16 hari setelah Voyager 2
diluncurkan.
Berat
space probe ini mencapai 733kg dengan kecepatan 13jam cahaya atau 100 Unit
astronomi (38,026 mph, 520 milion km per year). Voyager 1 memilki alat
penggerak generator termal radioisotope, yang sanggup membuatnya terus bekerja
hingga kemungkinan tahun 2025 ke depan. Gambar resolusi tinggi Callisto, Io,
Titan, hingga Ganymede pertama kali dikirimkan oleh Voyager 1. Dua tahun
setelah peluncurannya, keberadaannya sudah melewati Jupiter serta berhasil
mengamati aktivitas gunung berapi di salah satu bulan Jupiter yaitu Io,
melewati rekor catatan yang pernah dibuat oleh pesawat ruang angkasa terdahulunya,
Pioneer 10 dan 11.
Pada awal
kali sebelum peluncuran, Voyager 1 direncanakan untuk Program Mariner, sebuah
program yang diprakarsai NASA dan JPL untuk menyelidiki seluk-beluk Mars,
Venus, dan Merkurius dikarenakan teknologi Gravitational
Slingshot yang dimiliki cocok untuk misi semacam itu.
Pada tanggal 22 Agustus 1980, Voyager 1 telah berada di sekitar
Saturnus. Bermaksud mengorbiti dan mengamati sekitar Saturnus sebelum kemudian
kembali pergi menjauh keluar dari tata surya.
![]() |
Gambar 3 : gambar pertama yang diambil Voyager 1,
menunjukkan bumi dari jauh
|
Voyager memiliki beberapa instrumen pendukung misinya yang
diharapkan dapat memberi informasi berharga untuk kemajuan ilmu pengetahuan
manusia. Seperti Imaging Science System,
yaitu sistem dua kamera untuk memberikan citra benda-benda sepanjang lintasan,
kemudian Radio Science System, sebuah
instrumen yang bertugas untuk menentukan sifat fisik planet dan satelit alami
sekitar, seperti kandungan ionosfer, atmosfer, massa, kepadatan, dan gravitasi.
Traxial Fluxgate Magnetometer,
dirancang untuk menyelidiki medan magnet dan interaksi angin surya. Sekiranya
masih ada beberapa instrumen penting lainnya yang belum disebutkan namun
sama-sama dibutuhkan untuk kelangsungan misi.
Saat ini
Voyager 1 tengah berada di daerah interstellar (bagian dimana tidak ada lagi
pengaruh dari matahari), bersama Voyager 2 di Heliosheath (bagian terluar heliosphere dimana angin surya
diperlambat oleh tekanan gas antarbintang. Diharapkan pada sepuluh tahun ke
depan, Voyagers akan dapat menghasilkan pengukuran materi antarbintang,
kandungan magnet maupun sinar kosmik sepanjang lintasan yang telah mereka
lalui. Apabila sudah 40.000 tahun berlalu, Voyager 1 akan telah melewati rasi Camelopardalis, dalam hitungan 1.6
cahaya. Namun kenyataannya, jauh sebelum tahun itu datang, Voyager 1 pasti
sudah kehabisan sumber energinya, membuat semua instrumen didalamnya mati tak
berfungsi. Begitu pula dengan Voyager 2.
Pada tiap badan Voyager, terdapat sebuah piringan emas yang memuat
rekaman audio maupun visual, dimaksudkan untuk sekiranya makhluk yang cukup
pintar untuk mengenali isi piringan tersebut. Didalamnya
terdapat bermacam foto tentang bumi, dan sapaan dari 55 bahasa beserta sapaan
dari sekertaris jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa. Selain itu, juga terdapat
suara bumi, paus, bayi menangis, dan beberapa koleksi musik yang berpengaruh
bagi masyarakat dunia seperti Mozart, pemusik tuna netra Wilie Johnson, Chuck
Berry, Valya Balkanska dan banyak lagi termasuk lelaguan regional maupun adat
tiap budaya. Pada bagian pojok kiri atas, terdapat gambaran phonofraph bersamaan
dengan stylus-nya. Stylus berfungsi untuk memutar rekaman
yang disebutkan dari awal hingga akhir. Ditulis dalam bahasa binary arimethic.
![]() |
| Gambar 4 : piringan emas Voyager 1 |
Voyagers sudah bertugas selama kurang lebih 40 tahun
lamanya, melalui perjalanan sepanjang lebih dari 21,1 miliar km. Informasi yang diterima Voyager 1 diperbarui setiap lima
menit. Tersedia tampilan secara 3D dan hanya dapat diterima oleh pihak NASA
sebagai bahan penyelidikan.
Voyager 1 merupakan satu-satunya pesawat ruang angkasa
tercepat buatan NASA, yang juga satu-satunya objek buatan manusia yang berhasil
menembus ruang interstellar. Dibalik keberhasilannya menjalankan misi, terdapat
satu alat berukuran kecil yang menumpu, yaitu ‘thrusters’. Alat ini yang membantu ‘membangunkan’ Voyager 1 dari
tidur panjangnya selama kurang lebih 37 tahun. Thrusters ini akan membuat semacam denyutan kecil yang berlangsung
hanya sepersekian milidetik. Alat-alat memberi impuls itu dikembangkan oleh
Aerojet Rocketdyne. Jenis MR-103 yang digunakan pula oleh Cassini
dan Dawn.
Disebutkan
sejak tahun 2014, alat tersebut telah berkurang daya kerjanya. Berjarak 13
miliar mil dari bumi, tidak memungkinkan Voyager untuk kembali begitu saja hanya
untuk diperbaiki. Di lain sisi, misi tidak dapat digagalkan. Tim Voyager pun
mengumpulkan sekelompok ahli propulsi untuk memelajari masalah tersebut. Chris
Jones, Robert Shotwell, Carl Guernsey, dan Todd Barber menganalisis serta
memprediksi bagaimana solusi serta nasib pesawat tersebut di luar angkasa sana.
Mereka pun menggali kumpulan berkas-berkas lama dan kembali memeriksa software
yang bekerja dibalik thrusters agar
sekiranya dapat berhasil apabila dilakukan perintah, sebab terlalu lama mati
memungkinkan alat tersebut tidak lagi dapat menerima perintah dengan semestinya
atau malah gagal sama sekali.
Kemudian
pada hari Selasa 28 November 2017, para teknisi Voyager kembali ‘menyalakan’
keempat thrusters untuk pertama kalinya
dalam 37 tahun. Mereka menunggu dengan bersemangat hasilnya untuk sampai dari
luar angkasa selama sembilanbelas jam tigapuluh lima menit hingga akhirnya
sampai pada antena Goldstone, California, bagian dari NASA’s Deep Space
Network. Nyatanya dengan penerima perintah yang masih berfungsi baik, hasil tes
pun memuaskan.
Jika
Voyager 1 berhasil meninggalkan area heliosphere sebelum kehabisan tenaga pada
tahun 2025 nanti, pesawat ruang angkasa itu akan menyelidiki Local Cloud atau ‘awan’ sekitar sana,
bintang-bintang terdekat, dan sekitarnya. Namun, jika sumber tenaga telah habis,
Voyager 1 hanya akan ‘terkantung’ di luar angkasa hingga ada yang menemukan probe tersebut atau malah berakhir
hancur bertabrakan dengan benda langit lainnya.
Daftar Pustaka
Wikipedia. (2019, 12 Maret). Voyager 1. Diperoleh pada 2019, 15 Maret,
dari https://en.wikipedia.org/wiki/Voyager_1
NASA. (2017, 2 Desember). Voyager 1 Fires up Thrusters after 37 Years.
Diperoleh pada 2019, 15 Maret, dari https://www.nasa.gov/feature/jpl/voyager-1-fires-up-thrusters-after-37
Dailykos. (2017, 2 Desember 7.8AM). Voyager 1 Thrusters Fired up after 37 Years
of Deep Sleep. Diperoleh pada 2019, 15 Maret, dari https://www.dailykos.com/stories/2017/12/1/1720285/-Voyager-1-Thrusters-Fired-Up-After-37-Years-of-Deep-Sleep
NASA
SCIENCE. (2019, 18 Maret). Voyager.
Diperoleh pada 2019, 15 Maret, dari https://science.nasa.gov/science-news/science-at-nasa/2011/28apr_voyager2/
The
Fact Research. (2018, 5 Juli). Voyager 1
the Farthest Probe. Diperoleh
pada 2019, 15 Maret, dari https://www.thefactresearch.com/voyager-1-farthest-probe/
Langit Nias. (2016). Asal Usul Suku Nias. Diperoleh pada 2019, 15 Maret, dari https://langitnias.blogspot.com/p/suku-nias-adalah-kelompok.html
OretKami.
(2009,10 Juli). Cerita Rakyat Sumatera,
Legenda Asal Usul Orang Nias. Diperoleh pada 2019, 15 Maret, dari https://suratku01.wordpress.com/2009/07/10/cerita-rakyat-sumatera-utara-legenda-asal-usul-orang-nias/





Comments
Post a Comment